Politik dalam Pandangan Islam


Sobat jatilovers, sekedar share pengetahuan mengenai politik dalam pandangan islam yang berhubung sebagai tugas agama islam waktu semester 1. semoga bermanfaat.

politik-islam-dan-jahiliyah

  1. Bagaimana konsep politik dalam pandangan sekular?

Antara definisi yang dikemukakan oleh sarjana Barat ialah sekularisme adalah paham yang memisahkan agama daripada politik.  Definisi ini juga terkait dengan definisi filosofis yang diungkapkan oleh al-Attas merujuk kepada Harvey Cox bahwa sekularisasi adalah: “the deliverance of man first from religious and then from metaphysical control over his reason and his language”. Jadi menurut pandangan sekular agama tidak boleh mengatur kehidupan manusia. Maka politik adalah bidang kehidupan yang tidak terkait secara langsung dengan agama. Kemudian agama sendiri dalam pengertian Barat telah disempitkan kepada hal-hal yang bersifat ritual dan spiritual. Karena agama telah dibataskan seperti itu ia tidak lagi relevan dalam kehidupan bermasyarakat, urusan publik, ia hanya relevan dalam kehidupan peribadi. Jadi masyarakat Barat sendiri tidak merasa mereka kurang patuh dalam beragama, hanya agama itu sendiri yang sememangnya terbatas pada pandangan mereka. Bahkan mereka merasa cukup religious apabila pergi ke gereja seminggu sekali, membaca Bible sesekali, dan menjadikannya kitab sandaran ketika pemimpin negara bersumpah.

Apabila politik dipisahkan daripada agama, apa yang berlaku adalah politik kehilangan dimensi kerohanian dan moralnya. Maka dalam berpolitik, seorang yang berpandangan sekular, akan melakukan apa saja yang dianggap perlu untuk meraih kuasa walaupun terpaksa berbohong, menjatuhkan orang lain, membantu orang yang zalim dan lain sebagainya seperti yang tercermin dalam The Prince karya Machiavelli. Ini yang dinamakan desacralization of politics sebagai sebagian dari proyek sekularisasi.

  1. Apakah Islam membutuhkan sekularisasi?

Penindasan terhadap sains dan saintis tidak pernah berlaku dalam Islam. Malah ketika perdaban Islam maju ilmu pengetahuan berkembang pesat dan para saintis dan ilmuwan diberikan penghargaan yang tinggi baik oleh penguasa mahupun oleh masyarakat. Dari fakta sejarah ini kita dapat menyimpulkan bahwa agama dan sains, akal dan wahyu, tradisi dan modernitas tidak pernah dilihat sebagai dua entitas yang bertentangan keduanya dapat wujud secara harmoni dan bergandingan. Jika sekularisasi menjadi solusi kepada masyarakat Barat untuk maju, ia tidak pernah relevan apalagi menjadi pilihan dalam sejarah umat Islam. Bahkan sekularisasi di dunia tidak akan membawa kemajuan sebenar ia malah akan mendatangkan lebih banyak kekeliruan dan masalah kepada bangsa dan negara. Kepincangan peradaban Barat hari ini sepatutnya sudah cukup membuka mata umat Islam agar tidak mengikuti paham-paham yang datang dari Barat. Sebaliknya setiap individu perlu berusaha membangunkan bangsa dan negara masing-masing mengikut acuan sendiri yang berlandaskan kepada kebijaksanaan baik yang bersumberkan wahyu mahupun dari ilmuwan agung terdahulu serta pengalaman dan sejarah yang patut dicontohi.

  1. Apakah politik Islam, secara khusus sistem pemerintahan, merupakan sebuah teokrasi?

Adalah satu kekeliruan apabila Islam dikaitkan dengan teokrasi. Ramai orientalis menghubungkan pemerintahan Islam pada zaman dulu dengan sistem teokrasi. Begitu juga dari kalangan Islam yang karena pemikiran yang konservatif berpandangan bahwa  hanya golongan ulama saja yang layak menjadi pemimpin. Golongan agama ini lalu diagungkan seolah-oleh mereka ma’sum. Konsep seperti ini tidak ada dalam tradisi Islam yang benar. Konsep ulama’ dalam tradisi Islam tidak terbatas kepada golongan yang menguasai bidang-bidang keagamaan. Karena itu dalam Islam tidak ada istilah clergy (golongan agama). Sistem politik Islam adalah sistem Shura. Dalam sistem Shura ilmuwan terpilih dan para pemimpin dari berbagai lapisan membincangkan persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan umum. Keputusan Shura sifatnya mengikat (binding). Imam tidak berhak memveto keputusan Shura. Ini berarti ahl al-shura (badan legislatif) lebih tinggi kedudukannya daripada Imam. Dan semua badan-badan pemerintah baik eksekutif, legislatif maupun kehakiman mesti tunduk kepada Shari’ah (supremacy of the Shari’ah).  Secara mudahnya begitulah sistem politik Islam. Dan sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem teokrasi.

  1. Bagaimana sesungguhnya kedudukan politik dalam Islam?

Politik amat penting dalam Islam. Imam al-Ghazali mengatakan agama dan politik itu seperti kembar, yang tidak akan sempurna tanpa adanya yang lain. Begitu juga Ibn Taymiyyah mengatakan bahwa pemerintahan merupakan satu kewajiban agama yang paling besar. Ketika para ulama besar ini menekankan kepentingan politik ia tidak berarti politik adalah segala-galanya. Sehingga umat Islam harus menfokuskan segala usahanya untuk merebut kuasa politik. Islam juga mementingkan ilmu dan pendidikan. Ini hakikat yang sering dilupakan oleh umat Islam, khususnya gerakan-gerakan Islam. Justru tumpuan perlu diberikan kepada pembenahan dan perbaikan (islah) karena kekacauan dan kerusakan yang ada pada hari ini adalah akibat dari kelalaian semua pihak: para pendidik, ibu bapa, pemerintah, ulama, dsb. jika perubahan pada individu dan masyarakat berjaya dilakukan maka perubahan dalam bidang politik akan mengikut.  Jadi menurut saya perubahan tidak berlaku dari atas tetapi dari bawah. Kesadaran perlu ada barulah perubahan dapat dilaksanakan atas keinginan sendiri dan bukan karena paksaan. Kita juga menyaksikan banyak usaha untuk merubah dari atas akhirnya menemui kegagalan. Karena itu Rasulullah tidak mahu menerima tawaran untuk menjadi raja kaum Quraysh.

Daftar Pustaka : 

Amirudin, Hasbi, 2000. Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman. Yogyakarta;UII Press.

Ibnu Taimiyah, 1998. Siyasah Syar`iyah, Etika Politik Islam. Surabaya: Risalah Gusti.

Muammar,Khalif.2009.islam politik.jakarta:PT.majalah tafakur

Categories: islam | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: