Bisakah Meminta Fatwa Ke Hati Kita Sendiri ?


Sobat jatilovers, pernah dengar suara hati? hati kecil? pernah dengar istilah itu? apakah kata hati itu benar atau tidak? sobat bisa simak yang dibwah ini :

Tanya :

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Bismillah.

Ustadz yang semoga selalu diberkahi Allah. Yang mau saya tanyakan apakah kita bisa meminta fatwa ke hati kita sendiri? Jika fatwa itu benar tandanya, maka hati kita tenang. Dan kalau fatwa itu salah hati kita akan menjadi sesak atau sempit dada. Apakah ada dalil yang menjelaskan hal ini? Saya mohon penjelasannya dari ustadz.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Akbar – Via Email)

Jawab :

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebelum menjawab bisa atau tidak, kiranya perlu kita ketahui dahulu dari mana latar belakang ungkapan itu.

Ungkapan itu bersumber dari hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Wâshibah ibn Ma‘bad ra. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Wâshibah, “Kamu datang kepadaku untuk bertanya tentang kebajikan (al-birr) dan dosa (al-itsm)?” Wâshibah menjawab, “Ya.” “Rasululullah saw. kemudian mengumpulkan jari-jari tangannya (mengepalkan tangan) dan meletakkannya di dadaku,” kata Wâshibah, dan beliau bersabda, “Wahai Wâshibah! Tanyalah (istafti) hatimu, tanyalah dirimu!” sebanyak tiga kali. “Kebajikan (al-birr) adalah sesuatu yang hati merasa tenang (tenteram) melakukannya, sedangkan dosa (al-itsm) adalah sesuatu yang menyebabkan hati bimbang dan cemas, meskipun banyak orang mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan.”

Hadits itu termasuk satu dari empat puluh hadits pilihan Imam Nawawi yang dirangkum dalam buku Al-Arba‘în-nya.

Ketika menjelaskan hadits ini, Ibn al-Qayyim mengatakan, “Tidak boleh serta-merta seseorang melaksanakan apa yang difatwakan oleh seorang mufti jika hatinya tidak merasa tenang dengan fatwa itu, atau ada kecemasan atau keraguan dalam menerima fatwa itu, karena Nabi saw. bersabda, ‘Tanyalah hatimu walaupun orang lain telah memfatwakan kepadamu.’” Ini artinya kita boleh “meminta fatwa” kepada hati kita sendiri jika kita merasa tidak tenang atau ragu-ragu dengan fatwa seseorang.

Misalnya, jika ada ulama yang mengatakan bahwa masturbasi itu boleh, lalu Anda ragu apakah benar boleh, tanyakan pada hati kecil Anda, bagaimana hati kecil Anda menilai perbuatan itu. Jika hati kecil Anda mengatakan tidak, atau memandang perbuatan itu menjijikkan, ikuti hati kecil Anda: jangan lakukan, walaupun ada fatwa yang membolehkan.

Hanya saja, yang perlu sekali kita tekankan di sini adalah bahwa meminta fatwa kepada hati kecil kita itu hanya pada hal-hal yang belum jelas halal-haramnya, atau masih menimbulkan keragu-raguan.

Demikian, Wallahu a’lam.

Muhammad Arifin

(Sumber : Alifmagz)

Categories: islam | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: